Minggu, 22 Juli 2018

LAPORAN AKTIVITAS GUNUNG MERAPI

LAPORAN AKTIVITAS GUNUNG MERAPI
Tanggal 13 –  19 Juli  2018
I.     HASIL PENGAMATAN
Visual
Cuaca cerah terjadi pada pagi dan malam hari, siang dan sore hari berkabut. Asap teramati berwarna putih, tipis, dengan tekanan gas lemah. Tinggi maksimum 30 m teramati dari Pos Pengamatan Gunung Merapi Kaliurang  pada tanggal 18 Juli 2018. Berdasarkan analisis foto tidak teramati perubahan morfologi puncak secara signifikan. Lampiran 1.a memperlihatkan analisis morfologi puncak melalui stasiun kamera Deles.
Kegempaan
Dalam minggu ini kegempaan G. Merapi tercatat 8 kali gempa Vulkano-Tektonik Dangkal (VTB), 3 kali gempa Hembusan, 29 kali gempa Multifase (MP), 39 kali gempa Guguran (RF), 1 kali gempa LF dan 29 kali gempa Tektonik (TT). Kegempaan pada minggu ini masih fluktuatif di atas kondisi normal. Lampiran 1.b menunjukkan grafik kegempaan di G. Merapi.
Deformasi
Pengukuran EDM menghasilkan nilai jarak tunjam rata-rata untuk RK2 (sektor selatan) sebesar 6506,95 m. Data pemantauan baseline GPS Stasiun Selo–Pasarbubar menunjukkan jarak sebesar 4259,20 m.
Deformasi G. Merapi yang dipantau secara instrumental dengan menggunakan EDM dan GPS tidak menunjukkan perubahan yang signifikan dalam minggu ini. Lampiran 1.b menunjukkan grafik deformasi di G. Merapi.
Emisi SO2
Dalam minggu ini pengukuran DOAS (Differential Optical Absorption Spectroscopy) menghasilkan nilai rata-rata emisi SO2 puncak G. Merapi sebesar 88,91 ton/day, masih dalam kisaran normal. Lampiran 1.b menunjukkan grafik nilai emisi SO2 di G. Merapi.
Hujan dan Lahar
Pada minggu tidak terjadi hujan di Pos Pengamatan Gunung Merapi.

II.    KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental maka disimpulkan bahwa aktivitas vulkanik G. Merapi masih cukup tinggi dan dinyatakan dalam tingkat aktivitas “WASPADA”.
Saran 
Dengan tingkat aktivitas G. Merapi “WASPADA” kepada para pemangku kepentingan dalam penanggulangan bencana G. Merapi direkomendasikan sebagai berikut:
        Radius 3 km dari puncak G. Merapi agar dikosongkan dari aktivitas penduduk dan pendakian.
        Masyarakat yang tinggal di KRB lll mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G.Merapi.
        Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi  yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segera ditinjau kembali.
        Untuk informasi resmi aktivitas G. Merapi masyarakat dapat mengakses informasi melalui Pos Pengamatan G.Merapi terdekat, radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz,website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana no. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
        Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini.
Demikian, atas perhatian dan kerja samanya, kami ucapkan terima kasih.
Yogyakarta, 20 Juli  2018
a.n. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi,
Kepala BPPTKG
u.b
Kepala Seksi Gunung Merapi
                                                                                        
Agus Budi Santoso
NIP. 198008272005021001


LAMPIRAN
Data Laporan Aktivitas Gunung Merapi Tanggal 13  - 19 Juli 2018.
Lampiran 1. Pengamatan visual melalui kamera Stasiun Deles (a), Grafik data pemantauan G. Merapi menggunakan metode seismik, EDM Reflektor Kaliurang 2 dan Babadan 1, baseline GPS Selo-Pasarbubar, dan nilai emisi SO2 (b).

Jumat, 29 September 2017

Perkembangan Terkini Mengenai Aktivitas Vulkanik Gunung Agung (per 29 September 2017)

Gambar Data Pengamatan Gunungapi
Seismik/Kegempaan:
  1. Gempa vulkanik yang tercatat masih menunjukkan jumlah yang tinggi. Gempa-gempa ini mengindikasikan adanya peretakkan batuan di dalam tubuh gunungapi yang disebabkan oleh pergerakan magma.
  2. Perhitungan magnitudo gempa menunjukkan besaran yang terus meningkat. Magnitudo gempa terbesar selama masa krisis ini adalah gempa dengan magnitudo M4.3 pada tanggal 27 September 2017 pukul 13:12 WITA. Akhir-akhir ini gempa semakin sering dirasakan oleh masyarakat di sekitar Gunung Agung dan Batur, dan beberapa gempa terbesar bahkan dapat dirasakan di daerah Denpasar dan Kuta.
  3. Gempa vulkanik diperkirakan berada di bawah kawah hingga kedalaman 20 km dari puncak gunung berapi.
Penginderaan Jauh Satelit
  1. Satelit telah mendeteksi adanya emisi asap putih (uap) dan area panas yang baru di kawah puncak Gunung Agung. Luas area panas ini teramati telah membesar selama sepekan terakhir, termasuk satu rekahan baru di tengah kawah dimana emisi asap putih (uap) juga terus berlangsung.
Pengamatan Visual:
  1. Emisi asap putih (uap) dari kawah umumnya teramati dengan ketinggian rata-rata 50-200m di atas puncak. Saat ini emisi asap (uap) teramati relatif lebih menerus.
  2. Setelah gempa dengan magnitudo M4.2 pada tanggal 26 September 2017 pukul 16:27 WITA, asap putih (uap) keluar dengan intensitas lebih besar dan teramati sampai ketinggian sekitar 500 m di atas puncak.
Deformasi:
  1. Analisis data tiltmeter mengindikasikan adanya inflasi (penggembungan) pada tubuh Gunung Agung.
Analisis
  1. Dengan kondisi data pemantauan pada saat ini, probabilitas untuk terjadi letusan masih lebih tinggi daripada probabilitas untuk tidak terjadi letusan. Namun demikian, probabilitas letusan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada data pemantauan terkini.
  2. Jika terjadi letusan, kemungkinan besar akan diawali dengan letusan kecil namun juga memungkinkan untuk diikuti oleh letusan yang lebih besar. Besarnya letusan tidak bisa ditentukan dengan pasti.
  3. Tanggal dan waktu pasti letusan tidak dapat diprediksi. Namun demikian, PVMBG akan mengeluarkan peringatan saat kondisi berubah dan/atau jika teramati kecenderungan yang lebih tinggi untuk terjadi letusan.
  4. Masih aman untuk berwisata di Bali. Namun, pengunjung tidak boleh memasuki area terlarang di dekat Gunung Agung (saat ini di dalam pada radius 9 km dan perluasan sejauh 12 km dari puncak ke arah Tenggara, Selatan dan Baratdaya dan ke arah Utara hingga Timurlaut). PVMBG terus berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memperkuat sistem peringatan dini letusan.
  5. Pengunjung ke Bali dan masyarakat setempat harus tetap mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia. Informasi terkini aktivitas Gunung Agung dapat diperoleh melalui aplikasi web maupun telepon pintar yang dikeluarkan PVMBG yaitu "Magma Indonesia" (magma.vsi.esdm.go.id) dan melalui Google Playstore.
Kasbani,
Kepala PVMBG, Badan Geologi
Kementerian ESDM

https://magma.vsi.esdm.go.id/press/

Selasa, 26 September 2017

PEMANTAUAN GUNUNG API

Gunungapi mempunyai dua sisi ibarat uang logam. Bila sisi gelap muncul maka yang terjadi adalah bencana akibat erupsi namun di sisi lain sisi terang gunungapi memberi manfaat yang luarbiasa bagi kehidupan manusia yaitu tanah yang subur, material hasil erupsi, sumber energi, bentang alam yang menarik dan lain lain. Dengan semakin berkembangnya populasi manusia di dunia ini maka semakin tumbuh habitat ke arah gunungapi yang meningkatkan risiko ancaman bahaya. Dalam usaha melindungi kehidupan masyarakat pemukim di sekitar daerah vulkanis diperlukan tindakan mitigasi yang salah satu dari aksinya adalah pemantauan aktivitas vulkanik dengan harapan mampu mendeteksi tanda-tanda peningkatan bahaya sehingga peringatan dini penyelamatan dapat diberikan.
Tujuan pemantauan adalah prediksi erupsi artinya bagaimana mengetahui kapan erupsi terjadi, berapa lama erupsi berlangsung, dimana pusat erupsi dan bagaimana karakteristik erupsi. Vulkanolog membuat ramalan berdasarkan sejarah geologi gunungapi bersangkutan serta tanda-tanda dari hari ke hari yang diperoleh dari hasil pengamatan visual dan instrumental. Dengan instrumen yang teliti dan analisis data yang baik pergerakan magma bawah permukaan dapat diikuti dengan mengamati proses yang menyertainya diantaranya kegempaan dan perubahan bentuk tubuh gunung dalam orde yang sangat kecil yang biasa disebut dengan deformasi. Sebelum erupsi biasanya terdapat "Prekursor erupsi" yaitu suatu gejala awal berupa perubahan-perubahan parameter fisika dan kimia yang terlihat secara visual maupun yang terukur secara intrumental sebagai tanda aktivitas vulkanik sebelum erupsi. Untuk menyimpulkan bahwa suatu perubahan fisika atau kimia sebagai prekursor erupsi terlebih dahulu harus diketahui basis data pada masa gunungapi tidak aktif.
Proses erupsi dan berbagai "tanda" yang muncul menjelang erupsi begitu berbeda antara satu gunungapi dengan lainnya bahkan pada gunungapi yang sama sekalipun. Pemantauan aktivitas gunungapi apalagi pada saat aktivitas gunungapi meningkat harus melibatkan berbagai disiplin ilmu dengan berbagai macam peralatan. Pemantauan gunungapi secara instrumentasi memerlukan tahap-tahap pekerjaan mulai pemasangan, pemeliharaan dan penggantian peralatan yang biayanya tidaklah murah. Secara sederhana pemantauan dapat dikategorikan atas pemantauan dengan indera manusia langsung atau dengan peralatan instrumentasi. Apabila magma naik menuju ke permukaan maka 4 tanda utama biasanya muncul sebagai indikasi menjelang erupsi, yaitu : (1) Meningkatnya gempa-gempa vulkanik (2) deformasi di permukaan akibat desakan magma (3) kenaikan flux gas-gas vulkanik dan (4) adanya peningkatan suhu kawah
Merapi menarik ilmuwan dunia untuk riset karena tingkat aktivitasnya yang tinggi dan relatif kontinyu. Periode erupsinya yang pendek pada era modern ini kira-kira antara 2 sampai 8 tahun memungkinkan para ilmuwan menguji metoda dan peralatan dengan melihat data yang mereka peroleh sebelum dan sesudah erupsi berlangsung. Merapi menjadi menarik karena banyak data ilmiah yang dapat diperoleh di sini mulai dari komposisi gas gunungapi karena terdapat beberapa lapangan solfatara di puncak, berbagai tipe dan jenis gempa, deformasi tubuh gunungapi, kemagnetan bumi, perubahan medan gravitasi, perubahan potensial diri batuan dan lain-lain.
Instrumen kontinyu pertama di Merapi adalah seismograf mekanik Wiechert yang dipasang tahun 1924 di lereng barat 9 km dari puncak. Kemudian pada tahun 60-an bekerjasama dengan Jepang dipasang seismograf Hosaka dengan telemetri kabel untuk melengkapi seismograf yang sudah ada. Pada tahun 1982 dibangun jaringan seismograf short-period dengan menggunakan sistem telemetri radio yang diterima di Kantor Seksi Penyelidikan Gunung Merapi di Yogyakarta. Pada dekade 90-an merupakan era modern sistem monitoring Merapi dengan diperkenalkannya akuisisi data secara digital yang meningkatkan ketelitian dan akurasi data secara signifikan.
Perkembangan terkini sistem pemantauan adalah menggunakan wahana satelit. Sebagai contoh pemantauan deformasi saat ini semakin berkembang dan dapat dilakukan secara spasial kuasi kontinyu dibandingkan dengan pemantauan point to point yang sebelumnya banyak digunakan. Pemantauan SO2 menggunakan satelit saat ini juga umum digunakan datanya oleh para vulkanologis untuk menganalisis tingkat aktivitas suatu gunungapi. Mungkin yang paling banyak mendapat manfaat dari penginderaan jauh adalah aspek visual vulkanisme seperti bentuk morfologi gunungapi, berkembangnya kubah atau kawah, arah dan besar longsoran yang terjadi, pusat tumbuh dan keluarnya lava dan parameter lain yang teramati secara visual.

Metoda pemantauan berdasarkan cara mendapatkan datanya bisa dibagi atas dua kategori yaitu (1) metoda pemantauan secara kontinyu yang memerlukan sistem pengiriman data melalui transmisi gelombang elektromagnetik. (2) Secara episodik data diambil melalui survei lapangan pada waktu yang berlainan langsung di lokasi pengamatan.

Metoda dan teknik yang umum diterapkan untuk memantau aktivitas gunungapi. Pemantauan kegempaan adalah metoda utama dalam sistem pemantauan dengan instrumentasi. Adapun penginderaan jauh (remote sensing) saat ini berkembang pesat sebagai metoda pemantauan yang pada masa depan menjanjikan akan menjadi andalan baru dalam sistem pemantauan gunungapi.


Lokasi stasiun pengamatan lapangan di Merapi yang sedang dan pernah terpasang. Pada saat rentang tahun 1995-2000 pemantauan Merapi mempunyai peralatan terlengkap dengan berbagai macam metoda pemantauan secara telemetri berkat kerjasama dengan berbagai institusi luar negeri. Data pemantauan ditelemetrikan ke BPPTK Yogyakarta.

Pemantauan Visual
Pemantauan perubahan-perubahan yang muncul pada fenomena gunungapi dengan cara melihat langsung melalui indera manusia bisa disebut sebagai pemantauan visual. Beberapa perubahan itu misalnya adanya kepulan asap dan perubahan warnanya, perubahan morfologi tubuh gunungapi dan munculnya kubah lava. Banyak catatan sejarah telah melaporkan tanda-tanda yang muncul sebelum gunungapi meletus yang dirasakan oleh penduduk yang tinggal dekat dengan gunungapi tersebut. Tanda-tanda tersebut dapat berupa meningkatnya ketajaman bau belerang, warna asap yang berubah menjadi lebih gelap, suara-suara gemuruh, layunya tumbuhan di sekitar puncak gunungapi dan lain-lain. Pemantauan visual walaupun seringkali sangat efektif namun memiliki kelemahan pada tingkat akurasi dan subjektivitasnya yang cukup tinggi. Pengamatan dari satu orang ke orang lainnya akan berbeda sesuai dengan masing-masing persepsinya. Pemantauan visual dapat dilakukan dengan cara pengamatan langsung, membuat sketsa atau melalui rekaman menggunakan kamera atau video yang dilakukan secara menerus. Tujuannya adalah menemukan perubahan yang bisa terdeteksi secara visual. Saat ini pemantauan gunungapi memperoleh manfaat dari kemajuan teknologi luar angkasa. Gambar citra satelit ditambah dengan hasil pemotretan dari darat dan udara dianalisis untuk mencari tanda-tanda perubahan dari gunungapi yang diamati.
Beberapa contoh pengamatan dengan satelit: (1) Pemantauan suhu menggunakan satelit termal, biasanya yang digunakan adalah satelit cuaca untuk menghasilkan citra infra merah dari panas yang dihasilkan oleh gunungapi. Pemantauan ini bisa untuk memberikan peringatan dalam jangka menegah dalam orde beberapa hari atau beberapa minggu. Metoda ini cocok untuk pemantauan gunungapi yang jauh dan sulit dijangkau namun satelit bisa gagal mengirimkan gambar bila cuaca berkabut atau mendung atau saltelit melintas terlalu jauh dari lokasi gunungapi. (2) Satelit Radar Interferometry. Jenis pemantauan ini menggunakan pancaran dan pantulan gelombang radar dalam periode bulan sampai tahun untuk mendeteksi perubahan bentuk (deformasi) gunungapi akibat desakan magma dari bawah. (3) Satelit kamera optik. Pada satelit tertentu dipasang kamera optik untuk memperoleh gambaran permukaan gunungapi dalam rentang resolusi rendah sampai tinggi. Tetapi harga citra satelit pada saat ini masih sangat mahal disamping itu kelemahannya adalah gambar tidak bisa diperoleh bila gunungapi tertutup oleh awan.
Pemantauan visual morfologi dengan sketsa
Sewaktu teknologi fotografi belum berkembang secanggih dan semudah sekarang, cara lama untuk mengetahui perkembangan morfologi dari waktu ke waktu ialah menggunakan sketsa tangan. Biasanya yang disketsa adalah perkembangan morfologi permukaan gunung. Sketsa dibuat dalam kurun waktu berbeda-beda namun dari lokasi yang sama yang kemudian dapat dibandingkan satu sama lain untuk melihat perubahannya.

Sketsa Merapi tahun 1961 digambar oleh pengamat gunungapi dari arah utara-barat atau di sekitar Pos Pengamatan Babadan. Terlihat cukup jelas evolusi morfologi di sekitar puncak pada kurun waktu tersebut.


Lokasi penempatan kamera pemantauan di seluruh Pos Pengamatan Gunung Merapi dan stasiun pemantauan on-line dengan IP-cam yang ditempatkan di bukit Plawangan.

   
Pengamatan visual pertumbuhan kubahlava dan data pengamatan dengan teodolite

Runtuhnya dinding Gegerboyo

  
Pengamatan kubah dari Deles

 
Pengamatan kubah dari Selo






 
 
Poster pemantauan visual (1)

Poster pemantauan visual (2)

  Pemantauan visual morfologi dengan kamera foto
Salah satu metodologi pemantauan visual Merapi untuk menganalisis perubahan morfologi adalah menggunakan kamera sebagai alat bantu. Metoda analisis foto dilakukan dengan mengidentifikasi perubahan morfologi puncak atau kubah lava dari foto-foto yang diambil secara rutin dari titik yang sama di beberapa sektor Merapi. Perubahan morfologi yang diamati terutama pada perubahan ketinggian kubah lava relatif terhadap lava-lava lama. Faktor skala yang digunakan untuk menghitung nilai sebenarnya bisa diperoleh dari citra satelit atau menggunakan referensi peta yang sudah ada. Referensi jarak ditentukan berdasarkan dua titik yang dapat terlihat dalam foto. Dengan ketentuan apabila titik-titik tersebut dihubungkan dengan titik pengamatan, maka garis hubungnya dapat membentuk segitiga sama kaki. Dengan demikian, setiap posisi pengambilan foto mempunyai referensi jarak berbeda satu dengan yang lain.
Posisi kamera tersebar di pos pengamatan untuk pemantauan secara visual. Dengan kemajuan teknologi digital dan makin murahnya harga kamera pada saat ini maka semakin sangat mudah untuk memperoleh gambar foto Merapi baik untuk keperluan ilmiah atau hanya sekedar hobi dan rekreasi. Dibandingkan dengan kamera dengan sensor film analog model lama maka kamera digital 

MITIGASI BENCANA GUNUNGAPI

Pendahuluan Indonesia adalah negeri yang rawan bencana geologis gempabumi, tanah longsor, erupsi gunungapi, dan tsunami. Sebagai konsekuensi kewajiban negara untuk melindungi rakyatnya maka pemerintah diharapkan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengurangi risiko dan mempunyai rencana keadaan darurat untuk meminimalkan dampak bencana. Saat ini telah tersedia undang-undang tentang penanggulangan bencana nasional yaitu UU Nomor 24 Tahun 2007. Undang-undang tersebut berfungsi sebagai pedoman dasar yang mengatur wewenang, hakkewajiban dan sanksi bagi segenap penyelenggara dan pemangku kepentingan di bidang penanggulangan bencana. Menurut UU No.24 2007 tersebut, penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam situasi terdapat potensi terjadi bencana meliputi: (akesiapsiagaan (bperingatan dini dan (c)mitigasi bencana. Kesiapsiagaan dilakukan untuk memastikan upaya yang cepat dan tepat dalam menghadapi kejadian bencana yang dapat dilakukan melalui (a) penyusunan dan uji coba rencana penanggulangan kedaruratan bencana (b) pengorganisasian, pemasangan, dan pengujian system peringatan dini (cpenyediaan dan penyiapan barang pasokan pemenuhan kebutuhan dasar (d) pengorganisasian, penyuluhan, pelatihan, dan gladi tentang mekanisme tanggap darurat (e) penyiapan lokasi evakuasi (fpenyusunan data akurat, informasi, dan pemutakhiran prosedur tetap tanggap darurat bencana dan (gpenyediaan dan penyiapan bahan, barang, dan peralatan untuk pemenuhan pemulihan prasarana dan sarana.Peringatan dini sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 huruf b dilakukan untuk pengambilan tindakan cepat dan tepat dalam rangka mengurangi risiko terkena bencana serta mempersiapkan tindakan tanggap darurat. Peringatan dini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui : (apengamatan gejala bencana (banalisis hasil pengamatan gejala bencana (cpengambilan keputusan oleh pihak yang berwenang (dpenyebarluasan informasi tentang peringatan bencana dan (epengambilan tindakan oleh masyarakat. Mitigasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 huruf c dilakukan untuk mengurangi risiko bencana bagi masyarakat yang berada pada kawasan rawan bencana yang dapat dilakukan melalui berbagai cara termasuk pelaksanaan penataan ruangpengaturan pembangunan, pembangunan infrastruktur, tata bangunan dan tak kalah penting adalah penyelenggaraan pendidikan, penyuluhan, dan pelatihan baik secara konvensional maupun modern. Mitigasi bencana gunungapi dalam pengertian yang lebih luas bisa diartikan sebagai segala usaha dan tindakan untuk mengurangi dampak bencana yang disebabkan oleh erupsi gunungapi. Mengingat begitu banyak gunungapi yang ada di wilayah Indonesia dan padatnya penduduk yang bermukim di sekitarnya maka bencana erupsi gunungapi dapat terjadi sewaktu-waktu. Berdasarkan tugas dan fungsinya Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi termasuk BPPTK sebagai salah satu unitnya turut berperan dalam manajemen krisis bencana erupsi. Pada fase Pra-kejadian peranannya dapat meliputi langkah-langkah penilaian risikobencana, pemetaan daerah kawasan rawan bencana, pembuatan peta risiko dan membuat simulasi skenario bencana. Tindakan lain yang perlu dilakukan adalah pemantauan gunungapi dan menyusun rencana keadaan darurat. Adapun pada saat fase kritis maka sudah harus dilakukan tindakan operasional berupa pemberian peringatan dini, meningkatkankomunikasi dan prosedur pemberian informasi, menyusun rencana tanggap darurat yang berupa penerapan dari tindakan rencana keadaan darurat dan sesegera mungkin mendefinisikan perkiraan akhir dari fase kritis.


Peringatan Dini
 

Sistem ini berfungsi untuk menyampaikan informasi terkini status aktivitas Merapi dan tindakan-tindakan yang harus diambil oleh berbagai pihak dan terutama oleh masyarakat yang terancam bahaya. Ada berbagai bentuk peringatan yang dapat disampaikan. Peta Kawasan Rawan Bencana sebagai contoh adalah bentuk peringatan dini yang bersifat lunak. Peta ini memuat zonasi level kerawanan sehingga masyarakat diingatkan akan bahaya dalam lingkup ruang dan waktu yang dapat menimpa mereka di dalam kawasan Merapi. Informasi yang disampaikan dalam sistem peringatan dini terutama adalah tingkat ancaman bahaya atau status kegiatan vulkanik Merapi serta langkah-langkah yang harus diambil. Bentuk peringatan dini tergantung pada sifat ancaman serta kecepatan ancaman Merapi. Apabila gejala ancaman terdeteksi dengan baik, peringatan dini dapat disampaikan secara bertahap, sesuai dengan tingkat aktivitasnya. Tetapi apabila ancaman bahaya berkembang secara cepat, peringatan dini langsung menggunakan perangkat keras berupa sirine sebagai perintah pengungsian. Ada 4 tingkat peringatan dini untuk mitigasi bencana letusan Merapi yaitu Aktif Normal, Waspada, Siaga dan Awas.
(1) Aktif Normal : Aktivitas Merapi berdasarkan data pengamatan instrumental dan visual tidak menunjukkan adanya gejala yang menuju pada kejadian letusan.
(2) Waspada : Aktivitas Merapi berdasarkan data pengamatan instrumental dan visual menunjukkan peningkatan kegiatan di atas aktif normal. Pada tingkat waspada, peningkatan aktivitas tidak selalu diikuti aktivitas lanjut yang mengarah pada letusan (erupsi), tetapi bisa kembali ke keadaan normal. Pada tingkat Waspada mulai dilakukan penyuluhan di desa-desa yang berada di kawasan rawan bencana Merapi.
(3) SiagaPeningkatan aktivitas Merapi terlihat semakin jelas, baik secara instrumental maupun visual, sehingga berdasarkan evaluasi dapat disimpulkan bahwa aktivitas dapat diikuti oleh letusan. Dalam kondisi Siaga, penyuluhan dilakukan secara lebih intensif. Sasarannya adalah penduduk yang tinggal di kawasan rawan bencana, aparat di jajaran SATLAK PB dan LSM serta para relawan. Disamping itu masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana sudah siap jika diungsikan sewaktu-waktu. 
(4) Awas : Analisis dan evaluasi data, secara instrumental dan atau visual cenderung menunjukkan bahwa kegiatan Merapi menuju pada atau sedang memasuki fase letusan utama. Pada kondisi Awas, masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana atau diperkirakan akan terlanda awan panas yang akan terjadi sudah diungsikan menjauh dari daerah ancaman bahaya primer awan panas.
Sirine Peringatan Dini dan Komunikasi Radio
Peringatan dini sirine adalah suatu sistem perangkat keras yang berfungsi hanya pada keadaan sangat darurat apabila peringatan dini bertahap tidak mungkin dilakukan. Sirine dipasang di lereng Merapi yang dapat menjangkau kampung-kampung yang paling rawan dan sistem ini dikelola bersama antara pemerintah Kabupaten bersangkutan dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi dalam hal ini adalah BPPTK. Sarana komunikasi radio bergerak juga termasuk dalam sistem penyebaran informasi dan peringatan dini di Merapi. Komunikasi berkaitan dengan kondisi terakhir Merapi bisa dilakukan antara para pengamat gunungapi dengan kantor BPPTK, instansi terkait, aparat desa, SAR dan lembaga swadaya masyarakat khususnya yang tergabung dalam Forum Merapi.
                  Diagram alir data dan informasi status aktivitas gunungapi
Penyebaran Informasi
Penanggulangan bencana Merapi akan berhasil dengan baik apabila dilakukan secara terpadu antara pemantauan Merapi yang menghasilkan data yang akurat secara visual dan instrumental, peralatan yang modern, sistem peringatan dini, peralatan komunikasi yang bagus dan didukung oleh pemahaman yang benar dan kesadaran yang kuat dari masyarakat untuk melakukan penyelamatan diri. Pembelajaran kepada masyarakat yang tinggal dan bekerja di daerah rawan bencana Merapi merupakan tugas yang secara terus menerus harus dilakukan sesuai dengan dinamika perkembangan arah dan besarnya ancaman yang bakal terjadi. Karena wilayah rawan bencana Merapi berada pada teritorial pemerintah daerah maka kegiatan penyebaran informasi langsung kepada masyarakat dilaksanakan atas kerjasama BPPTK dan instansi terkait. Sosialisasi dilakukan tidak hanya dilakukan pada saat Merapi dalam keadaan status aktivitas yang membahayakan, akan tetapi dilakukan baik dalam status aktif normal maupun pada status siaga. Namun demikian pada keadaan aktivitas Merapi meningkat seperti ketika aktivitas Merapi dinyatakan pada status Waspada dan atau Siaga menjelang terjadinya krisis Merapi sosialisasi dilakukan lebih sering.
Sosialisasi status aktivitas dan ancaman bahaya Merapi pada intinya bertujuan untuk menyampaikan, menjelaskan kondisi vulkanis Merapi untuk menjaga kesiapan segenap aparat dan masyarakat dalam menghadapi peningkatan atau penurunan status aktivitas Gunung MerapiSasarannya antara lain adalah menyampaikan kondisi aktivitas Merapi terkini, menyampaikan makna dari status aktivitas yaitu Awas, Siaga, Waspada dan Normalmenjelaskan jenis-jenis ancaman bahaya yang ada yaitu awan panas dan lahar hujan dan menyampaikan tindakan-tindakan yang perlu dilakukan apabila status naik atau turun.
Forum Merapi 
Penanggulangan bencana memerlukan keterlibatan semua pihak sesuai dengan kompetensinya masing-masing. Walaupun erupsi Merapi tergolong berskala kecil namun melihat dekat dan padatnya penduduk dari ancaman bahaya awanpanas maka potensi bencana Merapi tetap tinggi. Dengan tujuan menjembatani komunikasi dan pelaksanaan kegiatan bersama guna mewujudkan pengelolaan Gunung Merapi secara menyeluruh pada aspek ancaman, daya dukung lingkungan dan sosial-budaya masyarakatnya maka pada 17 Desember 2007 di Yogyakarta, Bupati Klaten, Bupati Boyolali, Bupati Magelang, Provinsi Jawa Tengah dan Bupati Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta serta Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana geologi (PVMBG) sepakat bekerja sama dalam "Forum Merapi" dalam rangka pengurangan risiko Merapi. Adapun manfaat yang ingin dicapai adalah terwujudnya penguatan kapasitas dan kinerja pemerintah kabupaten sebagai pemegang tanggungjawab utama pengurangan risiko bencana. Terjalin kerjasama secara sinergi di lintas kabupaten dan pelaku dalam pengelolaan ancaman, daya dukung lingkungan dan sosial-budaya masyarakat lereng Gunung Merapi.
Forum Merapi merupakan wadah bersama untuk menyatukan kekuatan, menyelaraskan program dan menjembatani komunikasi antar pelaku dalam kegiatan bersama untuk aksi pengurangan risiko bencana letusan G. Merapi serta menjaga kesinambungan daya dukung lingkungan bagi masyarakat sekitarnya. Perjanjian Kerja Sama "Forum Merapi" telah disepakati pada 19 Desember 2008 di Pos Pengamatan Babadan, Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Kesepakatan kerjasama "Forum Merapi" berdasarkan pertimbangan kesadaran pentingnya kerja sama untuk mengurangi risiko bencana sebagaimana dirintis sejak 26 Mei 2006 di kantor Badan Koordinator II Magelang oleh pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Magelang, Kabupaten Klaten, Kabupaten Sleman, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Paguyuban Siaga Gunung (PASAG) Merapi, Pusat Studi Manajemen Bencana Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta, serta didukung oleh Oxfam Great Bratain (GB), Deutsche Gesselschaft for Technische Zusammennabeit (GTZ), United Nations Children's Fund (UNICEF), dan United nation Development Programme (UNDP).
Wajib Latih
Penanggulangan bencana termasuk di dalamnya adalah upaya mengurangi resiko bencana yang meliputi kegiatan pencegahan, mitigasi, kesiap-siagaan, penyelamatan dan pemulihan. Kegiatan penanggulangan bencana merupakan satu kesatuan aktivitas yang melibatkan semua komponen masyarakat dan aparatur melalui koordinasi dari tingkat lokal sampai nasional. Peningkatan kapasitas kelembagaan maupun kapasitas masyarakat merupakan hal mutlak penting demi mengurangi resiko bencana. Dalam hal peningkatan kapasitas kelembagaan formal pusat dan daerah sudah tersedia UU no 24 Tahun 2007 namun peningkatan kapasitas masyarakat untuk mitigasi bencana belum terakomodai secara efektif. Konsep wajib latih muncul sebagai alternatif dalam rangka pengurangan resiko bencana melalui rekayasa sosial peningkatan kapasitas masyarakat di kawasan rawan bencana. Wajib latih adalah program berkesinambungan yang diharapkan dapat membentuk budaya siaga bencana pada masyarakat. Tujuan wajib latih adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat akan potensi ancaman bencana, menciptakan dan meningkatkan kesadaran akan resiko bencana. Sasaran wajib latih adalah penduduk yang berada di kawasan rawan bencana berusia 17-50 tahun atau sudah menikah, sehat jasmani dan rohani dan mendapat ijin keluarga. Penyelenggaraan wajib latih dilakukan oleh instansi pemerintah atau Lembaga Swadaya Masyarakat yang berkompeten di bidangnya dan dilakukan atas sepengetahuan pemerintah setempat.

ESDM 

Senin, 25 September 2017

KARAKTERISTIK GUNUNG MERAPI

SISTIM VULKANIS
Ada beberapa factor yang mempengaruhi karakteristik atau perilaku erupsi diantaranya : (1) sifat magma termasuk komposisi kimia, kekentalan, kandungan gas dan air, (2) struktur dan dimensi pipa saluran magma dan (3) posisi serta volume kantong magma yang menentukan besarnya pasokan. Besarnya suplai magma dari zona yang lebih dalam adalah motor utama dari aktivitas vulkanis dan yang membuat sistim vulkanis berjalan. Suplai magma Merapi dari kedalaman terkait dengan sistim tektonik yaitu subduksi oleh tumbukan antara lempeng samudera Indo-australia dan lempeng benua Asia. Dalam zona subduksi, pada kedalaman antara 60-150 km, terjadi pelelehan karena tekanan dan suhu tinggi. Pelelehan tersebut memproduksi magma asal, disebut juga magma primitif. Kedalaman zona pelelehan, tingginya tekanan dan suhu mempengaruhi jenis atau komposisi kimia magma primitif. Tiga parameter ini menyebabkan gunungapi-gunungapi di Indonesia mempunyai magma yang komposisinya berbeda satu sama lain. Magma primitif akan bermigrasi menuju permukaan yang digerakan oleh energi permukaan dari cairan hasil lelehan, faktor gravitasi dan efek tektonik. Dalam proses migrasi magma sistim tektonik termasuk evolusinya merupakan faktor penting. Aktivitas tektonik menghasilkan zona lemah yang memberi kemudahan bagi magma untuk menerobos mencapai permukaan menjamin kontinuitas suplai magma. Konstelasi tektonik ini juga yang memungkinkan, dua gunung yang berdekatan bisa berbeda keadaannya, misalnya yang satu "mati", yang lain sangat aktif.
Erupsi Merapi terjadi relatif sering hal ini ditengarai karena faktor geometri internal system vulkanis. Dari data kegempaan Merapi, tahun 1991 yang kaya gempa vulkanik dari berbagai jenis terlihat bahwa distribusi gempa Merapi lateral tidak jauh dari garis vertikal puncak Merapi ke bawah dan tidak tersebar luas. Pada kedalaman 1.5 - 2 km di bawah puncak tidak dijumpai adanya hiposenter gempa, demikian pula pada kedalaman >5 km. Gempa volkano-tektonik (VT) memerlukan medium yang solid dan bisa patah (brittle) sehingga zona-zona tidak terdapat hiposenter dianggap zona yang lembek (duktil) karena pengaruh suhu tinggi magma.
Dalam proses perjalanan menuju ke permukaan magma memasuki zona tampungan magma, dapat disebut sebagai kantong magma atau dapur magma bila ukurannya lebih besar. Di Merapi terdapat dua zona tampungan magma yang menentukan sifat khas Merapi. Karena letaknya relatif tidak jauh maka kenaikan tekanan di dapur magma akan menyebabkan aliran magma menuju kantong magma di atasnya menyebabkan naiknya tekanan di sana. Dalam hal ini kantong magma berfungsi sebagai katup bagi magma yang naik ke permukaan. Waktu tenang antar erupsi di Merapi merupakan fase dimana terjadi proses peningkatan tekanan magma di dalam kantong magma. Apabila tekanan melebihi batas ambang tertentu magma akan keluar dalam bentuk erupsi explosive atau efusif berupa pembentukan kubah lava. Volume produk yang dikeluarkan kira-kira sebesar 0.1% dari volume kantong/dapur magma. Produk erupsi Merapi rata-rata 10 juta m3 dalam suatu erupsi, bahkan sering di bawah 4 juta m3 yang artinya volume kantong magma relative kecil. Sangat kecil bila dibandingkan dengan Kilauea dan Reunion yang dalam sekali fase erupsi mengeluarkan masing–masing >40 juta m3 dan 100 juta m3 lava. Kantong magma dangkal di Merapi menyebabkan hanya dengan peningkatan tekanan yang tidak terlalu besar sudah dapat mengalirkan magma cukup lancar sampai permukaan tanpa perlu waktu panjang.

Gambar di atas menunjukkan penampang skematik dari struktur geometri internal Merapi. Dimensi kantong magma (atas) dan dapur magma (bawah) adalah perkiraan.
TIPE ERUPSI
Erupsi adalah peristiwa keluarnya magma di permukaan bumi bisa dalam bentuk yang berbeda-beda untuk setiap gunungapi. Erupsi bisa efusif yaitu lava keluar secara perlahan dan mengalir tanpa diikuti dengan suatu ledakan atau eksplosif yaitu magma keluar dari gunungapi dalam bentuk ledakan. Dalam erupsi yang eksplosif, terbentuk endapan piroklastik, sedang dalam erupsi efusif terbentuk aliran lava. Secara garis besar ada tiga tipe/jenis erupsi yaitu: Hawaiian, Strombolian dan Vulkanian. Istilah tipe hawaiian diambil dari kata Hawaii, pulau vulkanik di tengah samudera Pasifik yang mempunyai gunung dengan tipe erupsi khas hawaiian. Dinamika erupsi tipe hawaiian dicirikan dengan adanya erupsi lava cair berasal dari kawah dalam waktu cukup lama. Lava yang membentuk erupsi tipe hawaiian ini berjenis basalt. Dari bentuk fisiknya, gunung yang bertipe erupsi hawaiian mempunyai bentuk perisai, dalam arti bahwa diam tubuh gunung jauh lebih besar dari tinggi gunung.
Istilah tipe strombolian diambil dari kata Stromboli, nama gunungapi di pulau Stromboli Italia yang terletak di Laut Thyrene, Mediterania. Erupsi jenis strombolian dicirikan dengan erupsi-erupsi kecil dari gas dan fragmen-fragmen atau serpihan magma. Material yang diletuskan jatuh kembali ke dalam kawah atau di sekitar bibir kawah. Pada saat terjadi erupsi yang lebih besar, lava mengalir ke lereng di sekitarnya. Secara umum suatu gunungapi disebut bertipe strombolian apabila dalam suatu erupsi material padat yang terhamburkan kurang lebih setara dengan material yang mengalir sebagai aliran lava. Gunungapi tipe strombolian mempunyai kawah, biasanya berbentuk lingkaran. Tubuh dan lereng gunung tersusun dari batuan skoria hasil lontaran saat erupsi.
Istilah tipe vulkanian berasal dari nama gunung Vulcano yang terletak di kepulauan Lipar Italia. Erupsi bersifat eksplosif dengan tingkat eksplosivitas dari lemah ke katastropik. Magma yang membentuk erupsi tipe vulkanian bersifat antara basa dan asam (dari andesit ke dasit). Erupsi vulkanian terjad karena lobang kepundan tertutup oleh sumbat lava atau magma yang membeku di pipa magma setelah kejadian erupsi. Diperlukan suatu akumulasi tekanan yang relatif besar untuk membuka lobang kepundan atau menghancurkan sumbat lava. Erupsi melontarkan material hancuran dari puncak gunungap tapi juga material baru dari magma yang keluar. Salah satu ciri dari erupsi vulkanian yaitu adanya asap erupsi yang membumbung tinggi ke atas dan kemudian asap tersebut melebar menyerupai cendawan. Asap erupsi membawa abu dan pasir yang kemudian akan turun sebagai hujan abu dan pasir. Tidak seperti tipe hawaiian dan strombolian, aliran lava tidak terjadi pada tipe erupsi vulkanian. Gunung Merapi merupakan gunungapi yang dapat dimasukkan dalam tipe vulkanian lemah dengan ciri khas adanya peranan kubah lava dalam tiap-tiap erupsinya.
KUBAH LAVA
Magma yang sudah sampai di permukaan dapat mengalir turun ke lereng atau langsung membeku di puncak. Untuk lava yang bersifat sangat cair proses pembekuan di permukaan berjalan lambat dan endapannya dikenal sebagai "lava flow" atau "coulee" umumnya lava basalt mempunyai perilaku itu. Volume dan kekentalan menentukan jarak jangkau aliran lava yang bervariasi dari antara 3 sampai 25 km dan dapat mencapai lebih dari 100 km. Lava kental (trakitik atau riolitik), jarak jangkau alirannya tidak lebih dari 2-3 km dengan ketebalan 100-an m.
Pada gunungapi dengan magma yang cukup kental, lava membentuk apa yang disebut "lava block", bongkahan lava dengan permukaan tidak teratur. Dalam posisi tertentu, apabila kecepatan keluarnya lava cukup lambat, lava dapat langsung tertumpuk di permukaan kemudian membeku membentuk kubah lava atau "dome". Dapat dililiat bahwa antara kekentalan lava dan sifat alirannya ada hubungannya yaitu aliran yang sangat encer dengan jarak jangkau yang panjang dengan ketebalan kecil, sampai aliran sangat kental dengan jarak jangkau pendek, bahkan hanya berupa kubah dengan ketebalan yang besar. Lava yang sangat kental dapat membeku begitu sampai permukaan membentuk "sumbat lava".
Aliran lava Merapi menempati posisi transisi antara aliran lava fluida dan pembentukan sumbat lava. Apabila lava keluar dan menempati suatu posisi yang miring, misalnya di pinggir kawah utama, lava akan membentuk "lidah lava" karena proses aliran lava sangat pelan yang kemudian cepat membeku. Apabila lava keluar pada permukaan yang datar, kubah lava Merapi akan berbentuk tempurung terbalik dengan sisi-sisi yang relatif simetris. Kubah lava mempunyai bentuk yang khas yaitu simetris dinyatakan sebagai relasi antara tinggi kubah dan jari-jari kubah. Relasi tersebut tetap dan tidak tergantung dari volume kubah yang terbentuk. Dari data foto kubah yang terbentuk pada bulan Januari 1992, kubah Merapi mempunyai relasi tinggi (H) dan jari-jari dasar (R) = 4.8. Semakin kental magma semakin besar nilai relasi H/R. Pada proses pembentukan lidah lava, ketinggian kubah bertambah secara perlahan contohnya pada 1994, saat panjang kubah berkembang dari 300 m menjadi sekitar 460 m, tinggi kubah hanya bertambah dari 32 m menjadi 47 m. Perkembangan panjang kubah lebih cepat sekitar 10 kali lipat dari perkembangan tinggi kubah.
Pembentukan kubah lava Merapi terjadi dalam laju yang bervariasi. Dalam masa krisis atau biasanya dalam beberapa bulan sesudah terjadi letusan, arus keluarnya lava cukup lancar dan pembentukan kubah lava terjadi dalam laju yang cepat. Dalam beberapa kasus, pertumbuhan kubah lava terjadi secara perlahan. Sebagai contoh pada periode Maret-April 1994, pertumbuhan terjadi secara lambat dengan laju keluar lava sebesar 6.500 m3 per hari. Pada periode Mei-Juni 1994, pertumbuhan terjadi lebih cepat dengan laju keluar lava sebesar 17.000 m3 per hari. Laju keluar lava Merapi dalam pembentukan kubah lava selama ini, sejauh pernah teramati, tidak pernah melebihi 20.000 m3 per hari.
Kubah lava Merapi, yang berbentuk lidah lava maupun kubah simetris, mempunyai bagian luar (kulit) berwarna hitam yang keras tersusun dari batuan lava beku disebut kerak dengan tebal 1 -2 m. Apabila terbuka lava terlihat masih merah membara. Bagian dalam bersifat sedikit liat dengan suhu yang tinggi menunjukan masih terjadi suplai magma baru dan akan terjadi proses deformasi kubah lava. Apabila tidak ada suplai baru, lama kelamaan kubah akan membeku seluruhnya dan proses perubahan bentuknya terhenti.
Proses deformasi kubah merupakan proses perubahan bentuk kubah karena ada tambahan lava atau proses "mengalir" dari lava di dalamnya. Pada lava Merapi proses pembentukan lidah terjadi karena bagian dalam kubah masih Liat. Magma yang masih liat cenderung bergerak sehingga menambah panjang lidah lava. Pada saat bergerak, kulit atau kerak kubah mengalami perubahan morfologi karena ada aliran di dalamnya. Kadangkadang teramati juga bahwa morfologi kubah tidak berubah banyak tetapi panjang kubah bertambah. Pada saat ekor kubah (bagian ujung bawah lidah kubah) membeku maka proses perkembangan panjang kubah berhenti. Pada saat tersebut tinggi kubah pada bagian atasnya akan bertambah karena magma yang terus keluar secara perlahan. Pada fase awal pembentukan kubah (lidah lava) perubahan bentuk kubah hanya berupa pertambahan panjangnya dan tinggi kubah tidak akan berubah. Proses dalam fase awal ini dapat berjalan beberapa bulan. Fase berikutnya yaitu panjang dan tinggi kubah bertambah. Fase ketiga yaitu tinggi kubah bertambah tapi panjangnya tetap.
Perkembangan tinggi kubah tidak akan berlangsung terus menerus dengan laju yang sama walaupun suplai magma terus bertambah. Dapat dibayangkan bahwa pada saat kubah bertambah tingginya, tekanan litostatik didasar kubah juga bertambah demikian sehingga magma juga harus melakukan usaha yang lebih besar untuk mengangkat kubah di atasnya. Itulah sebabnya, semakin lama pertambahan tinggi kubah semakin lambat. Pada fase ini tubuh kubah cenderung akan lebih gemuk karena magma/lava akan cenderung menekan ke sisi-sisi sampingnya. Pada suatu saat tercapai ketinggian tertentu, di mana pada dasar kubah bekerja tekanan lithostatik material kubah yang setara dengan tekanan magma yang berada di bawah kubah. Pada situasi tersebut pertumbuhan kubah akan berhenti. Uraian ini berarti bahwa pada saat perkembangan kubah berhenti bukan berarti suplai magma yang keluar terhenti, hanya saja ada kemungkinan tekanan magma tidak cukup lagi mampu meningkatkan besarnya kubah.
Fase kritis dalam hubungannya dengan bahaya gugurnya kubah terjadi pada saat perkembangan kubah melambat dan tinggi kubah tidak bertambah lagi. Pada fase ini tekanan dari bawah akan terkumulasi. Apabila proses akumulasi cepat, maka pada saat tertentu tekanan litostatik tidak dapat lagi menahan tekanan dari bawah yang dapat mengakibatkan gugurnya kubah. Begitu kubah gugur maka tekanan magma yang semula terimbangi oleh tekanan litostatik tubuh kubah secara mendadak kehilangan tekanan penahannya sehingga terjadi letusan. Apabila fase kritis tersebut terlewati, maka kubah akan membeku dan kubah menjadi cukup kuat untuk menahan laju keluarnya magma baru. Maka proses berikutnya adalah bahwa magma akan mencari jalan keluar baru yang biasanya disamping kubah yang telah terbentuk.
Kubah yang sudah membeku dapat gugur, sebagaimana yang terjadi pada kubah lava yang terbentuk tahun 1957 telah gugur karena terdesak oleh magma yang keluar pada menjelang letusan tahun 1998. Desakan magma dari bawah merupakan faktor yang penting untuk menggugurkan sebuah kubah lava yang telah beku (= tidak aktif lagi). Proses yang teramati di Merapi yaitu bahwa magma dapat terpaksa menerobos keluar dengan mendesak kubah lava yang di atasnya apabila kawah memang sudah penuh oleh material lava. Dalam mencari jalan keluar, kubah lava lama dapat menjadi titik-titik lemah bagi keluarnya magma baru ke permukaan.
Pengaruh hujan besar artinya bagi kestabilan kubah lava. Hal ini berlaku hanya pada kubah lava aktif. Sedangkan untuk kubah lama, intensitas curah hujan yang tinggi hanya akan mengkikis permukaannya atau kalaupun sampai merontokkan kubah, proses runtuhnya kubah akan berlangsung mulai dari permukaan. Lain halnya untuk kubah lava aktif, air hujan yang meresap masuk ke dalam kubah lava akan menemui suhu kubah yang tinggi dan segera berubah menjadi uap dengan tekanan yang tinggi. Tekanan uap air tersebut mengurangi daya ikat antara material di dalam kubah yang dapat mempermudah terjadinya longsoran. Berbeda dengan pengaruh hujan pada kubah lava lama, pada kubah aktif hujan menyebabkan longsoran yang prosesnya berlangsung dari dalam kubah. Kejadian longsoran kubah aktif semacam ini tidak perlu didahului oleh munculnya gempa-gempa karena semua proses terjadi di bagian permukaan dan dapat berlangsung secara cepat.
Faktor lain yang mempengaruhi kestabilan kubah adalah gravitasi. Hampir seluruh kubah lava di puncak Merapi berbentuk kubah lava. Tubuh kubah terutama 2/3 bagian ke bawah menempel pada lereng dengan kemiringan sekitar 380. Kubah tidak meluncur ke bawah karena tubuhnya terikat oleh yang 1/3 bagian atas, yang biasanya tidak pada posisi miring, dan oleh gaya gesek antara kubah dan lereng. Gaya yang mendorong kubah untuk longsor adalah komponen gaya dari beratnya sendiri yang sejajar dengan lereng. Apabila kubah masih berkembang komponen gaya berat tersebut akan dapat menjadi besar dan dapat melebihi gaya gesek lereng sehingga longsoran dapat terjadi. Untuk kubah yang tidak berkembang lagi, atau sudah diam beberapa bulan lamanya, apabila tidak terjadi hujan dan tidak ada dorongan dari magma dari dalam maka tidak terjadi longsoran kubah. Hal ini berarti bahwa faktor gravitasi secara sendirian tidak berpengaruh banyak dalam longsoran kubah.
 Sketsa karakteristik pembentukan kubah dan proses terjadinya awanpanas. Perbandingan antara kejadian tahun 1992 dan tahun 1994 (Ratdomopurbo,2000).  
AWANPANAS
Istilah awanpanas dipakai untuk menyebut aliran suspensi dari batu, kerikil, abu, pasir dalam suatu masa gas vulkanik panas yang keluar dari gunungapi dan mengalir turun mengikuti lerengnya dengan kecepatan bisa lebih dari 100 km per jam sejauh puluhan km. Aliran turbulen tersebut dari jauh tampak seperti awan bergulung-gulung menuruni lereng gunungapi dan bila terjadi malam hari terlihat membara. Awanpanas biasanya tidak segemuruh longsoran biasa karena tingginya tekanan gas pada material menyebabkan benturan antar batu-batu atau material di dalam awanpanas tidak terjadi dengan kata lain benturan teredam oleh gas. Penduduk sekitar Merapi menyebut awanpanas sebagai wedhus gembel dalam bahasa Jawa berarti domba karena secara visual kenampakan awanpanas seperti domba-domba menyusuri lereng. Istilah ini diperkirakan telah dipakai sejak berabad-abad oleh penduduk setempat (lebih tua dari pada istilah nuee-ardente).
Awanpanas Merapi dibedakan atas awanpanas letusan dan awanpanas guguran. Awan panas letusan terjadi karena hancuran magma oleh suatu letusan. Partikel-partikel terlempar secara vertical dan horizontal. Kekuatan penghancuran material magma saat letusan ditentukan oleh kandungan gas vulkanik dalam magma. Awanpanas guguran terjadi akibat runtuhnya kubah lava bersuhu sekitar 500-600°C oleh tekanan magma dan pengaruh gravitasi. Proses awal yang memicu longsornya kubah dapat di timbulkan oleh tiga sebab :
1. Longsor biasa yang sebagaimana sering terjadi di daerah lereng-lereng pegunungan. Peranan hujan menjadi faktor utama yang menimbulkan ketidakstabilan. Di daerah lereng pegunungan air hujan masuk dalam struktur tanah dan memperkecil gaya gesek pada bidang gelincir sehingga tidak dapat lagi menahan berat lereng. Dalam hal kubah lava Gunung Merapi, air hujan yang masuk ke dalam kubah lava mengalami pemanasan sehingga menjadi gas yang bertekanan cukup tinggi untuk mengganggu kestabilan kubah. Kohesi material penyusun tubuh kubah lava mengecil sehingga mudah muncul longsoran kecil maupun besar.
2. Longsoran dipicu oleh suatu letusan kecil (lokal) yang terjadi di kubah lava. Gas bertekanan tinggi dalam kubah lava dapat memicu terjadinya letusan kecil setempat yang terjadi di permukaan kubah lava. Tekanan yang dilepaskan secara mendadak dapat mengganggu kestabilan kubah secara keseluruhan sehingga kubah dapat mengalami longsoran besar.
3. Longsornya kubah dapat pula karena adanya dorongan dari bawah yaitu dari pipa magma gunungapi sehingga kubah lava bergeser dan akhirnya longsor. Karena adanya faktor gravitasi, tekanan dari bawah yang tidak terlalu besar sudah cukup untuk mengganggu kestabilan kubah.
Karena awanpanas jenis ini terbentuk terutama karena pembongkaran kubah lava yang sudah ada sebelumnya oleh proses gravitasi, fragmen penyusun awan panasnya relatif besar. Demikian pula kekuatan luncurnya terutama hanya oleh beratnya sendiri sehingga jangkauan atau jarak luncurnya tidak begitu besar. Kecenderungan arah luncuran masa awanpanas ditentukan oleh arah aliran-aliran hulu sungai di lereng gunungapi yang berada di bawah posisi kubah lava yang terluncurkan. Material beratnya akan meluncur di dalam alur sungai, sedangkan awan yang kelihatan bergulung-gulung akan menyelimuti aliran masa awan panas dan melebar ke tepian alur hulu sungai di kiri kanan dari alur tersebut. Jarak jangkau awanpanas ditentukan oleh kecepatan alirnya yang tergantung pada morfologi dan kelerengan/ gradien alur lembah sungai.
Kekuatan awanpanas dalam membawa material berukuran besar dan bongkahan bongkahan merupakan ciri utama dari alirannya. Endapan awanpanas tersusun dari dua bagian, yaitu bagian bawah, beberapa meter atau puluhan meter tebalnya, biasanya di dasar lembah sungai terdiri dari material berbutir kasar. Bagian atas terdiri dari endapan material abu. Menurut Fisher & Schmincke (1984), endapan awanpanas bervariasi dan mencerminkan berbagai tipe letusan dan pengendapan. Kejadian letusan awanpanas itu sendiri dapat menghasilkan asosiasi endapan awanpanas dan piroklastik surge atau hanya awanpanas atau piroklastik surge saja. Perbedaan dari dua jenis endapan ini terlihat dari pemilahan dan struktur endapannya. Endapan awanpanas terpilah buruk dan masif sedangkan piroklastik surge mempunyai pemilahan butir yang lebih baik, berukuran lebih halus dan memiliki struktur lapisan. Proses pengendapan awanpanas terjadi pada dasar lembah dan menjauh dari sumber endapannya akan menebal.
Awanpanas yang terjadi di Gunung Merapi umumnya termasuk dalam awan panas guguran. Gaya berat kubah lava atau bagian dari kubah lava yang runtuh menentukan laju dari awan panas. Semakin besar volume yang runtuh akan semakin cepat laju awanpanas dan semakin jauh jarak jangkaunya. Pada umumnya kubah lava yang terbentuk di puncak berbentuk memanjang menjulur ke arah lerengnya. Orientasi dari kubah lava ini yang menentukan arah awanpanas yang akan terjadi. Namun demikian kubah lava di puncak Merapi tidak tunggal dalam arti ada banyak kubah lava yang tidak runtuh dan kemudian menjadi bagian dari morfologi puncak gunung Merapi. Ada kecenderungan bahwa kubah lava yang lebih baru lebih tidak stabil dibanding kubah lava yang lebih dulu terbentuk. Kestabilan kubah lava juga sangat tergantung dari keadaan dasar kawah di mana suatu kubah terbentuk.
Suhu awan panas dipelajari dengan menganalisa arang kayu dari pepohonan yang terlanda awanpanas dan kemudian terbenam dalam endapan awanpanas. Pengambilan contoh arang dilakukan dari endapan awanpanas yang ada, terutama pada endapan tua. Suhu awanpanas Gunung Merapi, dibandingkan dengan awanpanas dari gunung lain dengan letusan yang lebih besar, tidak begitu tinggi. Dari analisa diperoleh data bahwa suhu awanpanas Merapi hanya sekitar 250°C. Walaupun data ini baru dari contoh yang terbatas, hasil ini menunjukkan bahwa suhu awanpanas Merapi minimal 250°C.
EVOLUSI ERUPSI
Kronologi Hartman
Bagaimana kronologi suatu aktivitas letusan Merapi telah disimpulkan oleh Hartman (1935). Tiap letusan dibagi menjadi 3 fase yaitu fase awal atau keadaan sebelum meletus, fase utama yaitu aktivitas utama dan fase akhir yaitu kegiatan yang terjadi sesudah letusan berakhir. Ketiga fase tersebut merupakan atau dianggap sebagai satu siklus aktivitas letusan Merapi. Berdasarkan apa yang terjadi pada fase awal, utama dan akhir, Hartman membedakan kronologi letusan menjadi empat sebagai berikut :
Kronologi A : Siklus diawali dengan satu letusan kecil yang mengawali ekstrusi lava. Fase utama berupa pembentukan kubah lava sampai kubah mencapai volume besar dan kemudian perkumbuhan kubah berhenti. Siklus diakhiri dengan proses guguran lava pijar yang berasal dari kubah. Kejadian guguran lava pijar, kadang dengan awanpanas kecil, dapat berlangsung lama (bulanan).
Kronologi B: Dalam kronologi B ini, pada awalnya telah ada kubah lava di puncak Merapi. Fase utama berupa letusan vulkanian bersumber di kubah lava dan menghancurkan kubah lava yang ada. Letusan menghasilkan asap letusan vulkanian (contoh: asap cendawan letusan 1997). Material kubah yang hancur sebagian menjadi awanpanas yang menyertai letusan vulkanian tersebut. Fase akhir diisi dengan pertumbuhan lava baru pada bagian kubah yang hancur atau disamping kubah.
Kronologi C: mirip dengan kronologi B, hanya saja pada awalnya tidak terdapat kubah lava tetapi sumbat lava yang menutup kawah Merapi. Oleh adanya sumbat lava tersebut, fase utama berupa letusan vulkanian dengan awanpanas lebih besar (type St. Vincent ?). Fase akhir dari kronologi letusan yaitu berupa pembentukan kubah lava baru.
Kronologi D:Fase awal berupa letusan vertikal kecil. Fase utama berupa pembentukan sumbat lava yang kemudian diikuti dengan fase akhir berupa letusan vertikal yang cukup signifikan. Pada letusan "D" ini, karena sumbat lava cukup besar, letusan cukup dahsyat, relatif untuk Merapi, yang menghasilkan awanpanas besar dan asap letusan tinggi.
Dalam kenyataan, terutama dari pemantauan aktivitas letusan dengan lebih seksama sejak tahun 1984, batas-batas antara jenis kronologi letusan sebagaimana yang disajikan Hartman di atas sering tidak jelas. Sebagai contoh, letusan 1984 fase awal berupa kejadian awanpanas yang kemudian langsung disusul dengan letusan. Pada fase akhir terjadi guguran lava pijar. Contoh letusan 1984 ini menjadi gabungan dari kronologi A dan B. Kejadian longsoran kubah yang terjadi pada tahun 1994 sulitjuga dimasukkan dalam kronologi Hartman walaupun longsoran juga menghasilkan awanpanas dan letusan.


 Kronologi erupsi menurut Hartmann (1935) dibedakan atas empat macam dari yang dianggap paling lemah D sampai kuat A. Kolom kiri menunjukkan saat awal sebelum kejadian utama. Kolom tengah adalah kejadian utama dan kolom kanan adalah kejadian yang mengkhiri siklus aktivitas erupsi.  
Kronologi Hartman paling tidak memberikan gambaran pada pentingnya peranan kubah lava dalam setiap aktivitas Merapi. Dan dari penelitian geologi diperoleh hasil bahwa pada perioda Merapi Baru, terutama dalam 600 tahun terakhir, aktivitas Merapi didominasi oleh pembentukan kubah lava dan letusan-letusan kecil yang tidak lebih dari VEI 3 yang disertai awanpanas. Produk dari kejadian letusan-letusan tersebut, bila diltinjau dari pembagian kelompok endapan (Andreastuti, 1999), maka endapan yang terbentuk dapat digolongkan dalam kelompok 1, dan menghasilkan lava, awanpanas atau surge; dan kelompok 2 yang terutama terdiri dari asosiasi endapan awanpanas dan surge.
Endapan hasil letusan yang sekarang meskipun cukup tebal (mencapai 8m), namun karena merupakan endapan awanpanas yang sebarannya di lembah-lembah, maka letusanya relatif kecil. Sedangkan letusan pra-1800, karena hasilnya berupa endapan jatuhan yang ketebalannya dan merata di sekitar gunung, maka letusannya lebih besar. Letusan yang menghasilkan awanpanas tekanan internal dari magma lebih kecil daripada letusan yang menghasilkan endapan jatuhan.
Studi stratigrafi (Andreastuti,1999) yang dilakukan pada tephra Merapi telah memberikan gambaran yang lebih jelas tentang aktivitas letusan Merapi. Letusan yang tercatat dalam sejarah, pada umumnya hanya berupa letusan kecil yang terpusat di puncak. Awanpanas dari bongkaran kubah menjadi ciri utama aktivitas Merapi saat ini. Namun demikian dalam jangka yang lebih panjang analisa stratigrafi menunjukkan bahwa Merapi juga menghasilkan letusan-letusan yang besar. Andreastuti (1999) membagi kurun waktu aktivitas Merapi menjadi 3 episode yaitu Episode I (2990-1960 BP), Episode II (1960-780 BP) dan Episode III (780 BP sekarang). Letusan Merapi saat itu digolongkan dalam type plinian (sangat explosif). Dari indentifikasi ditemukan bahwa dalam kurun waktu 3000 tahun terakhir terdapat sejumlah 7 letusan skala besar (skala VEI 4, plinian dan subplinian). Sebagai ilustrasi seberapa besar letusan tersebut, misalnya pada letusan yang menghasilkan tephra di Selokopo, sekitar 500 BP, terjadi letusan dengan kolom asap letusan yang diperkirakan setinggi 15 kilometer di atas puncak dan dengan volume material yang diletuskan sebesar 0.26 km3 (260 juta m3, bandingkan dengan produk letusan 1998 yang hanya 8 juta m3). Dalam jangka panjang perubahan trend letusan Merapi dimungkinkan oleh adanya perubahan komposisi kimia magmanya. Pada Episode I, magma Merapi mempunyai komposisi medium-K (1.3-2.0%), sedangkan pada Episode Ill mempunyai komposisi high-K (2.0 - 2.5 %). Episode II merupakan episode transisi dari medium-K ke high-K. Dari kandungan Si02 nya, walaupun terdapat fluktuasi komposisi Si02 antara 51 % sampai 57 %, terdapat kecenderungan jangka panjang bahwa komposisi Si02 semakin besar. Kemungkinan letusan Merapi yang lebih besar dapat terjadi oleh adanya perubahan kandungan air (H20) dalam magma dan proses kristalisasi yang terjadi di dapur magma (del Marmol, 1989). Proses kristalisasi dan kandungan air yang tinggi menghasilkan unsur volatile yang merupakan sumber dari peningkatan tekanan dalam magma.
PREKURSOR
Gunungapi sebelum erupsi, biasanya menunjukkan tanda-tanda perubahan fisika dan kimiawi yang bisa dirasakan dengan panca indera manusia atau hanya dapat dideteksi dengan instrumen yang sangat peka. Secara umum beberapa tanda-tanda tersebut adalah berubahnya warna asap menjadi semakin tebal dan pekat, meningkatnya jumlah gempa-gempa yang terekam oleh seismogram, berubahnya komposisi kimia gas atau air, meningkatnya derajat suhu kawah dan terjadinya deformasi tubuh gunungapi.
Prekursor adalah gejala awal sebelum erupsi. Gejala tersebut dimulai dari kedalaman dimana sumber magma segar berasal yang akan mendorong magma yang sudah lebih dulu mengisi kantong dan pipa saluran. Bertambahnya pasokan magma ini akan meningkatkan tekanan di dalam kantong magma dan pipa saluran kepundan yang dapat menyebabkan retaknya batuan di sekelilingnya. Naiknya magma ke atas akan menurunkan tekanan internal magma sebagai akibatnya gas vulkanik yang bersifat volatil akan lepas dan menambah tekanan ke batuan di sekelilingnya.
Naiknya tekanan ini mengakibatkan retakan batuan yang akan menjalarkan energi gelombang elastik yang disebut dengan gempa vulkanik. Jenis gempa ini yang biasanya hanya dapat dideteksi oleh seismom. Gempa vulkanik di Merapi dimulai pada kedalaman antara 2 sampai 5 km yang menandai awal peningkatan aktivitas vulkanik. Selanjutnya sumber gempa akan semakin dangkal hanya kurang 2 km di bawah puncak.
Proses berjalannya magma ke permukaan sebelum terjadinya suatu erupsi menimbulkan getaran yang menyebabkan terjadinya yang biasa disebut tremor. Namun di Merapi termor tidak selalu terjadi sebelum erupsi. Seiiring peningkatan tekanan dan desakan magma dari dalam maka tubuh gunungapi menggelembung dalam orde yang sangat kecil yang sering disebut deformasi. Perubahan deformasi dapat dipantau dengan berbagai teknik geodetik atau menggunakan tiltmeter dan ekstensometer. Pada proses menuju erupsi ini terjadi pula peningkatan emisis gas vulkanik misalnya SO2 ke permukaan. Gejala-gejala tersebut di atas dapat dipantau dengan berbagai macam metoda dan instrumentasi dan disebut sebagai gejala awal atau prekursor aktivitas Gunung Merapi.


Grafik prekursor erupsi khas Merapi berdasarkan data pemantauan 2006. Grafik ini menunjukkan bagaimana pola dari variasi parameter pemantauan yang muncul sebelum erupsi. Pola yang cukup jelas terliliat sampai munculnya kubah lava pertama kali (perlu diingat bahwa definisi erupsi secara vulkanologis adalah munculnya lava di permukaan). Penjelasan dan pola prekursor Merapi lebih rinci dapat dililiat pada buku prekursor Merapi.



Contoh lain prekursor Merapi sebelum erupsi 1997 dan 1998 berdasarkan data perbandingan antara seismisitas, GPS, tilt dan volume kubah dalam periode aktivitas 1996 sampai 1999. Angka romawi menunjukkan periode dimana aktivitas Merapi mempunyai karakteristik berbeda secara kegempaan dan deformasi. Periode I menunjukkan kenaikan nilai tilt dan volume kubah yang disertai dengan banyaknya kejadian gempa vulkanik, MP dan guguran. Periode II gempa MP menghilang samasekali tetapi guguran masih cukup banyak dan nilai tilt serta kubah tumbuh lebih cepat. Periode III diawali dengan naiknya jumlah gempa MP sebelum erupsi 1997 yang diikuti penurunan jumlah gempa MP dan Guguran. Periode IV relatif tenang di permukaan yang ditunjukkan oleh jumlah gempa MP dan guguran yang sedikit tapi di dalam gejolak cukup tinggi yang ditunjukkan oleh banyaknya kejadian gempa vulkanik. Periode V seperti mengulangi periode kejadian sebelum erupsi 1997 yaitu naiknya jumlah MP sebelum erupsi yang dikuti oleh anjloknya volume kubah. Periode VI pada awal 1999 ditunjukkan oleh stabilnya volume kubah dan sedikitnya gempa namun periode ini hanya bertahan kurang dari 2 tahun sebelum erupsi kembali terjadi pada 2001. Data GPS menunjukkan titik NTR0 yang terletak di puncak mempunyai magnitude perpindahan terbesar yang mengindikasikan bahwa titik ini terletak pada zone yang lemah.